Jejak Langkah Sunyi Oleh : Sasmito Anggoro Maka bacalah tarian burung dan bunga- bunga Dengarkanlah percakapan rerumputan dan pohon pohon Adakah engkau menemui Jejak jejak kaki lunglai sang tua memadat dalam desah nafasmu? Adakah engkau mendengar desingan peluru mengurai resah pencarianmu? Sudahkah engkau layarkan bunga bunga di atas lembaran lembaran Nisan tua yang tak kau kenal? Sebab langit tak akan menciptakan computer dan situs situs pintar! Maka cambuklah punggungmu saja segenap otakmu Lantunkan Derap yang tersisa dari mereka yang telah letih bersama deburan ombak darah peperangan Sekalipun kupu kupu tak hendak sematkan namamu, Pada kilau bintang bintang di langit Sekalupun ikan tak akan menggoreskan namamu, Pada gemuruh samudra Tak harap henti untuk menjadi potret keterasingan: Pada setiap dentuman langkah gerilyawan, Pada setiap resah prajurit pada pengharapan kebebasan, Jangan biarkan Kesunyian terus menggema di atas papan tua bernama nisan sang pendekar Semuanya, hanya sekedar tanda: merdeka demi merdeka, teriakan gema di dalam jantung untuk temani mereka, karena kita hanya bisa berteriakan dalam pesta tanpa ada darah yang tercecer Getar demi getar yang berpijar dalam benak Hngga purna Jadikan senyum keceriaan tanpa harus bertopang dagu Temukan seluruh pencarian, Jangan biarkan segenap percakapan henti di dalam diri Dan di dalam sunyi kata kata Bila masih juga urung kau tulis sajak Mengapa tak kau coba tafsirkan mimpi Sebab setelah kepergian sang pahlawan Tak ada lagi manusia yang bisa mengusir penjajah negeri pertiwi selain para pejuang negeri yang telah mati dan sisa sisa nafas tua yang tersengal karena harus antri mengambil jatah kecil mereka Maka teralah jejak Maka pula layangkanlah segenap jiwamu ke segenap penjuru ilmu demi bumi pertiwimu Hamparkanlah masa depanmu hingga kebatas penglihatanmu Adakah kau temui nyeri sebatas duri tertanam di pojok jalan? Adakah kau dengar desus angin menggugurkan embun dari helai dedaunan? Rangkumlah hasrat sebatas tuju Dan janganlah kau biarkan ragu hadang jalanmu, Hingga purna waktu memanggil di ujung usia tak akan habis suara kau baca segenap tanda- tanda di wajah zaman adakah telah kau tafsirkan sejarah di abad silam? Sunyi yang menyusun perihnya kaki tanpa alas dengan tangan beku memegang sekedar bambu dari gema lonceng jiwa besar sang kecil Tajam perih kerikil Jangan kau biarkan Bulu bulu yang gugur dari sayap burung garuda dan bau bangkai para pejuang negeri membusuk
INDAH PURNAMA
INDAHnya sang PURNAMA malam itu disebuah taman SARI sang SENOPATI. namun ketika datang bala punggawa datang untuk menjemput PURNAMA, meski sekedar menyapa melalui tangan tangan bidadari, mersama malaikan penghuni surgawi, hanya asa yang terbawa. retaknya keINDAHan menjelma setelah suara tak termerdukan lagi oleh ketulusan hati tatkala tiada tertatap muka.
BERHARAP BAK PENGEMIS TERHADAP HATI DAN JIWA
TATKALA LUKA DIANTARA SERPIHA JIWA MEMINTA DENGAN SEGALA CELA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar