Selasa, 16 Desember 2008

SANG PENJAGA MALAM

Dalam Diriku

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;

dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;

dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!

dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya


Hari ini, aku ingin menangis sejadinya… Aku tidak tau kenapa aku tiba-tiba menangis. Aku tidak tau apakah karena aku bersedih atau bergembira terhadapmu yang begitu ku cinta.

JALAN SUNYI

Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi
Mendengarkan lagu bisu sendiri di lubuk hati
Puisi yang kusembunyikan dari kata - kata
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya

Apabila kau dengar tangis di saat lengang
Kalau bulan senyap dan langit meremang
Sesekali temuilah detak - detik pelaminan ruh sepi hidupku
Agar terjadi saat saling mengusap peluh dendam rindu

Kuanyam dari dan malam dalam nyanyian
Kerajut waktu dengan darah berlarut - larut
Tak habis menimpukku batu demi batu kepalsuan
Demi mengongkosi penantian ke Larut

Kamis, 11 Desember 2008

berakhir sudah semua harap

,.......... segalanya dilakukan demi hasrat cinta. Tapi ada yang lain kurasakan, bagai beku tiada sempat mendekat lebih jauh. Dan cinta itu bukan saja telah jauh dari harapan tapi lebih jauh lagi. Dari semuanya yang di rasakan ternyata cintaku hanya sanggup untuk mengenang, berakhir sudah semua harap, berakhir sudah semua impian dan berakhir juga tanpa kisah dari kasih cinta.

Mengenang adalah cinta, hanya untuk itu saja perlu cinta tapi ada jiwa yang besar, pada diriku aku telah menyadari lebih dalam lagi. masalaluku pernah terkoyak lalu ingatku pada dirimu, sadarkanku jalanku yang dulu gelap penuh dosa. Ada banyak kata hambar penuh ragu, tak punya ketetapan diri untuk untuk menatap sejuta binar-binar dimatamu, walaupun satu binar kudapat atau mungkin semua kudapat, tentunya ada kisah yang pernah dirasakan dari kasih cinta. Semua telah lalu tiada yang sanggup merubah waktu yang lalu-lalu, sampai kini dan nanti hanya berupa kenangan. :roll: :roll: :roll: Dan waktu bukan hanya membuat kenangan, tapi telah membuat diriku terpenjara dan hampir saja membunuh dengan senjata ketakutan pada diri sendiri, Dengan puisi aku menjadikannya perisai dari senjata waktu, sehingga aku dapat berpikir dan merenungi lebih dalam lagi. Ketika cinta diakhiri sebuah kenangan dari banyak kesalahan diri ini, tak mudah memang menghapus sesal dari yang bernoda tak bisa ditunda dan yang pasti lebih cepat menyudahi dengan segala peri penuh sedih. Sekali saja diakhiri dengan segala yang ada tetaplah membuat berjuta makna berduka dari cinta yang terkenang tak bisa ucapkan satu kata untuk mengawali meraih cinta. Hanya mengenang dan merenungi dari segala kesalahan diri, dari awal yang penuh ragu angan yang selalu beralih jauh, untuk itu aku puas mengatakan wajarlah ternyata cintaku hanya untuk mengenang dirimu. Dan mendalam lagi aku harus berkata bahwa cinta bukan untuk memiliki, cukuplah membuahkan kenangan dan seketika aku membayangmu terlintas gelap yang liar dari masalalu diriku, tapi kini aku tetap yakini akan ada cinta menanti dan datang untuk tuntaskan sepi diri ini dan sedikit mungkin menghapus kesalahan yang lalu